Friday, December 26, 2014

Interaksi antara Laki-Laki dengan Wanita yang Halal dan yang Haram: Memahami Apa itu Ikhtilat

Sebetulnya jarang-jarang saya membahas fiqih secara fokus di satu artikel blog ini. Itu artinya, kalau udah saya bahas secara fokus begini, ini penting. Serius, ini penting! Soalnya, ternyata banyak diantara kita yang belum paham tentang ikhtilat ini. Kalau ikhtilat ini belum dipahami, nggak heran, jadinya kita kerap terjerumus dalam dosa. Padahal, saya kepingin banget istiqomah. Tentunya kita semua butuh banget istiqomah.


Nah, Terus, Apa itu Ikhtilat?

Beli Tas Ransel Wanita Murah SekarangIkhtilat itu artinya adalah, ketika beberapa cowok dan beberapa cewek berkumpul-kumpul pada suatu tempat, yang padahal mereka semua itu bukan mahrom. Plus, terjadinya interaksi di antara mereka. Seperti halnya ngobrol, nyentuh tangannya, dan sebagainya.

Contohnya? Banyak. Cukup lumrah terjadi. Seperti halnya ketika Anda naik angkot. Nah, itu kan di angkot itu, Anda akan berpapasan dengan laki-laki maupun perempuan yang bukan mahrom. Sudah begitu, sampai berdesak-desakan lagi. Yang lebih konkrit lagi, itu kalau naik Kereta Api. Wah, sepertinya sulit untuk menghindari ikhtilat kalau sudah begitu.

Emangnya Kenapa Kalau Ikhtilat?
Lantaran, dalam Islam, ikhtilat itu hukumnya haram. Berdosa kalau Anda begitu. Artinya, yah nggak boleh Anda ngumpul-ngumpul dan berinteraksi begituan dengan lawan jenis yang bukan mahrom Anda. Lagian, kalau kita lihat faktanya sekarang, ujung-ujungnya ikhtilat itu akan menuju kepada:
Memandang aurat
Pelecehan seksual
Menyentuh kulit yang bukan mahrom
Zina
Dan sebagainya

Sesungguhnya ikhtilat adalah jalan yang memudahkan terjadinya berbagai kemaksiatan. Antara lain, terjadinya khalwat, yaitu laki-laki yang berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Sabda Rasulullah SAW, ”Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan, karena yang ketiganya adalah syaitan.”
[HR. Ahmad]

Kan Nggak Ngapa-Ngapain?
Kalau nggak ngapa-ngapain, yah ngapain ngumpul-ngumpul? Hehehe! Kalau nggak ngapa-ngapain, yah nggak apa-apa. Coba Anda simak sekali lagi definisi ikhtilat yang dipaparkan di atas. Ikhtilat itu, terjadi karena 2 hal. Satu, bercampur baurnya pria dan wanita yang bukan mahrom dalam satu tempat. Dua, terjadi interaksi diantara mereka.

Nah, kalau cuman bercampur baur doang, nggak ada interaksi, yah nggak apa-apa. Kayak misalnya kalau Anda lagi ke Mall tuh. Itu kan pas Anda lagi lihat-lihat barang, di dekat Anda juga ada banyak lawan jenis yang bukan mahrom. Selama tidak ada interaksi, nggak apa-apa. Anda nggak berdosa.
Tapi, Ada juga Ikhtilat yang Halal

Yah, ada pengecualian. Ada saat-saat laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom boleh berkumpul di suatu tempat, dan berinteraksi. Yakni, tatkala pada perkara:
Jual-Beli. Maksudnya, kalau Anda lagi jajan, belanja, dan sebagainya.

Pendidikan. Dengan kata lain, belajar dan mengajar. Nah, kayak kalau di Sekolah maupun di Kampus. Dan sebagainya.

Kesehatan. Seperti halnya kalau Anda ke dokter dan dicek sakit apa. Juga, seperti pas Anda diopname di Rumah Sakit. Dan sebagainya.
Sosial. Seperti halnya dalam dakwah, pengadilan, dan sebagainya.
Ibadah. Seperti halnya berhaji.
Waspadai Modus!

Dan pada kasus lainnya, adalah dimana saat memang mengharuskan laki-laki dan perempuan itu berinteraski. Yang jika mereka tidak berinteraksi, maka kepentingan tersebut tidak bisa terjadi. Seperti halnya ketika Anda belanja di Indomaret, rupanya yang jaga kasirnya lawan jenis. Tinggal sendirian pula dia. Kan nggak mungkin kalau kita langsung borong nggak bayar kan?

Tapi, sekiranya ada kepentingan yang bisa dilakukan tanpa harus ikhtilat, yah janganlah ikhtilat. Seperti halnya untuk makan di KFC. Ngapain ngajak-ngajak lawan jenis yang bukan mahrom? Toh, makan sendirian juga bisa. Apa perlu makannya sambil disemangatin, “Cemungudh Qaqack!” gitu? Ah, itu mah modus namanya! Hehehe!

Terpisahnya Kehidupan Laki-Laki dan Perempuan
Pada awalnya, komunitas laki-laki dan perempuan itu harusnya terpisah. Yang namanya komunitas (dalam artian kumpulan individu), laki-laki cukup berkumpul dengan laki-laki saja, dan perempuan cukup ngumpul dengan perempuan saja. Makanya kan, dalam sholat shafnya dipisah. Dalam kajian, shafnya dipisah. Harusnya, dalam urusan lain juga dipisah. Cukup jelas kita udah dikasih tahu hal begini, dari cerita-cerita pas Rasulullah hidup waktu itu.

Kalau dulu, aturan ini diberlakukan menjadi undang-undang resmi di negara. Cuman, semenjak tahun 1924, negeri Islam yang satu jadi terpecah belah, sehingga menjadi Indonesia, Malaysia, Arab, Turki, dan sebagainya. Ketika sudah pecah begitu, akhirnya yang mengatur undang-undang adalah orang yang nggak hobi dengan Al-Qur’an dan hadits. Mereka lebih hobi mengikuti aturan yang dibuat oleh sebagian kaum Yahudi dan Nasrani, notabene tak hobi dengan syariat Islam.

Manfaat Tak Ikhtilat
Terpisahnya Komunitas Cowok dan Cewek Non-MahromHebatnya, Islam itu menyediakan cara-cara yang cerdas. Salah satunya, Islam sangat paham dengan prinsip “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Makanya, Islam memilki sistem yang kuat, yang pernah selama lebih dari 1300 tahun negeri Islam berjaya, Islam memilki rekor terbaik berupa negeri yang kasus kriminalnya paling sedikit, diantara negeri-negeri lain yang menerapkan sistem Demokrasi, Republik, Kerajaan, dan sebagainya.

Kenapa bisa begitu? Tentulah, salah satu penyebabnya, karena undang-undang secara tegas melarang ikhtilat. Karena pelarangan ikhtilat merupakan solusi yang mengakar. Bukan solusi ecek-ecek yang sementara.

Maksudnya, ibaratnya solusi ecek-ecek itu, ketika atap Rumah Anda bocor, dan kalau hujan jadinya tetesan air berjatuhan melulu, maka Anda naruh ember di tempat jatuhnya tetesan air tersebut. Sedangkan solusi mengakarnya adalah, Anda perbaiki atap Rumah Anda.

Soalnya, kalau ngerjain solusi sementara, itu menyebabkan kita jadi capek, besok-besoknya harus ngurusin masalah itu lagi. Kalau solusi mengakar, insya Allah besok masalahnya nggak ada lagi.
Lagi pula, emang dasar Allah dan RasulNya yang memerintahkan kan?

Kedua mata zinanya adalah memandang [yang haram]; kedua telinga zinanya adalah mendengar [yang haram], lidah zinanya adalah berbicara [yang haram], tangan zinanya adalah menyentuh [yang haram], dan kaki zinanya adalah melangkah [kepada yang haram].
[HR. Muslim]

…para wanita yang ikut hadir dalam shalat berjamaah, selesai salam segera bangkit meninggalkan masjid pulang kembali ke rumah mereka. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jamaah laki-laki tetap diam di tempat mereka sekedar waktu yang diinginkan Allah. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit, bangkit pula kaum laki-laki tersebut.
[HR. Bukhari]

Nah, kan, yang keluar perempuan dulu, baru laki-laki. Kalau keluar bersamaan, bisa-bisa ikhtilat jadinya.

Tidaklah merajalela perbuatan zina di suatu kaum, kecuali kematian pun akan merajalela di tengah kaum itu.
[HR. Ahmad]

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
[QS. An-Nuur (24): 31]

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya* ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[QS. Ar-Rahmaan (33): 59]

Dunia Sementara AKhirat Selamanya


Allah SWT menciptakan dunia ini untuk kita manusia, namun kita diciptakan oleh Allah bukanlah untuk dunia ini.

Allah SWT menciptakan kita adalah untuk kehidupan akhirat yang selama-lamanya.

Ketetapan Allah bahwasannya dunia ini hanyalah sementara saja, apa saja yang ada didunia ini, siapa saja yang ada di dunia ini hanya sementara saja.

Kaya di dunia, kaya yang sementara, miskin di dunia pun miskin yang sementara, jadi raja di dunia, raja yang sementara, jadi rakyat pun sementara saja.

Sehat sementara, sakit sementara, tampang sementara, cantik sementara, hidup sementara bahkan matahari yang kita lihat terbit di ufuk timur tiap hari dan tenggelam di ufuk barat itu pun sementara saja.

Suatu hari nanti pasti dan pasti Allah akan hancurkan itu matahari, sungguh bodoh apabila kita mencintai sesuatu yang sementara. Mencintai dunia yang akan Allah hancurkan

Alihkanlah cinta kepada kampung akhirat tempat kehidupan yang abadi selama-lamanya. Kaya selama-lamanya dan tidak akan miskin-miskin lagi, jadi raja selama-lamanya yang tidak pernah di ganggu oleh demonstran. Cantik selama-lamanya yang tidak akan tua-tua lagi bahkan hidup disana selama-lamanya.

Dikumpulkan seluruh kenikmatan-kenikmatan dunia kemudian dibandingkan kenikmatan yang Allah berikan pada satu orang ahli surga itu seperti kita mencelupkan ujung jari kita ke samudra yang luas dan lihatlah satu tetes air yang menempel di jari kita, itulah kenikmatan dunia.

Begitu pula seluruh kenikmatan-kenikmatan di dunia dikumpulkan kemudian dibandingkan dengan satu orang ahli neraka, maka seluruh penderitaan di dunia ini bagaikan satu bijih salak saja tidak ada apa-apa.

Masalah di dunia bukanlah masalah yang sesungguhnya, masalah kita nanti yang sesungguhnya adalah di akhirat.

“Puisi yang berisi nasihat nasihat agama.

di bawakan oleh Derry Sulaiman”

Hikmah Juang Ditanah Rantau

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Ada banyak hikmah ketika seseorang mengambil keputusan untuk merantau, kita akan dipaksa untuk belajar agar mensyukuri keadaan yang dirasakan tempat tinggal ekita sebelumnya meski sejatinya dulu sering kita keluhkan, setelah merantau menjadi hal yang berbeda. seakan tempat tinggal kita adalah zona paling nyaman dalam hidupkita.



Belajar Beradaptasi

Merantau halnya belajar di negeri orang, karena di lingkungan baru kita akan menemukan yang belum pernah ditemukan di tempat kelahiran kita. Dari situ kita baru belajar sesuatu yang baru. Karena kita di lingkungan orang lain, jadi kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Kita bisa belajar baik dari segi bahasanya, karakter dan budaya masyarakatnya sekalipun agar kita bisa berbaur dengan mereka.

Merantau itu berjuang

Hidup itu penuh perjuangan, salah satu perjuangan besar untuk diri sendiri adalah merantau, dari rumah kita keluar dan masuk di tempat yang baru pasti mempunyai tujuan.Tujuan itu perlu kita perjuangkan agar tidak kalah telak dalam perjalanan.Berjuang identik dengan perlawanan, entah itu perlawanan terhadap batin sendiri maupun perlawanan terhadap lawan dalam rangka memperjuangkan apa yang kita perjuangkan dari rumah.

Merantau adalah Perubahan

Tak ayalnya dalam berjuang, yang kita inginkan adalah perubahan.Perubahan menuju yang lebih baiktentunya. Bergerakdari satu tempat ketempat yang baru merupakan indikasi perubahan yang tergerak oleh sebuah aksi, dimana aksi ini akan memberikan hasil. Bukanlah jiwa sang Petualang jika tidak ada pergerakan. Bukan jiwa seorang pemuda jika belum pernah mencicipi asam garam dan pahit getirnya hidup dalam perantauan.

Perantau adalah Sang Penakluk

Layaknya seperti Ghazi (Sang ksatria Islam Turki). Berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain, nomaden adalah kebiasaan mereka. Perantaupun layaknya seperti Ghazi, menjadi sang penaklukdan sang pembebas dalam segala hal, terutama dalam memperjuangkan Islam sesuai bisyaroh Rasulullah Saw..

Menyadarkanku akan arti kasih sayang

Rasa rindu dengan keluarga adalah nikmat tersendiri bagi kita, nikmat yang sungguh luar biasa besar menurut saya pribadi. Karena saat ini Saya merasakan betapa besarnya kasih sayang beliau terhadap saya ketika saya menyampaikan keadaan di perantauan ini beliau langsung tanggap memberikan apa yang saya butuhkan. Dari situ saya tersadar, betapa orang tua sangat sayang lebih dari apapun kepada anaknya, sedangkan mungkin dulunya kita merasa mandiri sebagai seorang diri.

Sekarang Saya sangat bersyukur ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu keluarga pada hari Raya Idul Adha kemarin, tepatnya pada tanggal 15 Oktober 2013. Padahal waktu itu saya sudah 85% dipastikan tidak bisa merayakan hari raya haji di rumah bersama keluarga, dan ternyata nasib berpihak pada saya J

Kini, betapa saya sangat sadar arti kasih sayang orang tua. Betapa saya sangat merasakan hikmah merantau. Pantaslah Imam Syafi’I sampai bersyair tentang Indah dan pentingnya merantau;

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu Gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan